Di kalangan anggota Gerakan Pramuka, khususnya di Kota Depok, nama Kak, Abdul Rohim atau yang lebih akrab disapa “Cang Rohim” sudah tidak asing lagi. Sosok yang juga dijuluki “Bocah Depok” ini memiliki rekam jejak pengabdian yang luar biasa. Saat ini, beliau memegang peranan strategis ganda, yakni sebagai Andalan Cabang Urusan Keprotokolan di Kwartir Cabang Kota Depok dan Wakil Ketua Bidang Pembinaan Anggota Muda (Waka Binamuda) di Kwartir Ranting Limo. Namun, siapa sangka di balik seragamnya yang selalu rapi dan perannya yang menuntut ketegasan mutlak, Cang Rohim adalah seorang Pembina Pramuka yang berjiwa seni tinggi. Ia aktif melestarikan kebudayaan di sanggar Betawi dan kerap tampil di berbagai pertunjukan kesenian seperti Lenong hingga atraksi Palang Pintu. Perpaduan antara ketegasan protokoler dan keluwesan seorang seniman inilah yang membuat karakternya begitu unik dan dihormati.
Keterlibatan Cang Rohim di dunia keprotokolan Pramuka bukanlah sebuah kebetulan. Kepercayaan tersebut lahir dari kebiasaannya di dunia kerja sehari-hari yang sangat menjunjung tinggi kedisiplinan, kerapian, dan kepatuhan pada prosedur. Bagi Cang Rohim, keprotokolan bukan sekadar mengatur barisan atau tata letak tempat duduk, melainkan “etalase” dari sebuah organisasi. Di Kwarcab, tugas utamanya adalah bersama tim memastikan setiap acara kepramukaan, terutama yang melibatkan pimpinan Kwarcab, berjalan dengan lancar, tertib, nyaman, dan sukses. Sentuhan keprotokolan di timnya membuat setiap kegiatan terlihat rapi dan pantas, dengan tetap menyesuaikan pendekatan khusus bagi berbagai golongan Pramuka, mulai dari usia Siaga, Penggalang, Penegak, hingga anggota dewasa.
Di balik kesempurnaan sebuah acara, selalu ada dinamika menantang yang jarang diketahui banyak orang. Cang Rohim membagikan bahwa tantangan terbesar sekaligus momen paling berkesan baginya adalah ketika harus menghadapi kejadian tak terduga yang melenceng dari prosedur tetap (protap). Di saat-saat kritis itulah, inisiatif dan kemampuan berpikir cepat sangat diandalkan. Menurutnya, seorang petugas protokol khususnya di kepramukaan tidak hanya dituntut untuk tampil presisi, good looking, dan tenang, tetapi juga harus dibekali attitude (sikap) yang luhur. Kemampuan menahan emosi di tengah kepanikan serta kepiawaian berkomunikasi antar-tim adalah kunci utama untuk mencegah miskomunikasi yang bisa mengacaukan susunan acara.
Perjalanan dan dedikasi Cang Rohim membuktikan bahwa disiplin organisasi dan kecintaan pada budaya lokal dapat bersinergi melahirkan kepemimpinan yang inspiratif. Sebagai penutup, sang “Bocah Depok” menitipkan pesan mendalam bagi para generasi muda Pramuka. Ia berharap anak-anak muda tidak pernah lelah untuk menempa diri agar menjadi manusia yang berguna, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi masyarakat luas. Baginya, sebaik-baiknya pelajaran hidup adalah ketika kita bisa memberikan manfaat bagi orang lain yang dilandasi dengan kedisiplinan, kecakapan, dan attitude yang baik. Sosok Kakak Abdul Rohim atau Cang Rohim adalah bukti nyata bahwa pengabdian setulus hati selalu akan meninggalkan jejak kebaikan yang abadi.
Hasduk.id
